" Kawan, ada empat hal yang tidak dapat diraih kembali...
...batu... setelah dilempar!
...kata-kata... setelah diucapkan!
...kesempatan... setelah berlalu!
...waktu... setelah beranjak pergi! "

Friday, 15 February 2013

Seperti Apa Sahabat kita?


Seiring waktu berjalan sejak manusia dilahirkan yang mulanya sendiri pun kini mulai mempunyai teman.Teman,….. hmm,,,,, seperti apakah teman kita? apakah dia memang pantas di pertahankan? apakah hanya cukup tahu dan kenal saja? dapatkah dia memberi manfa,at dan nilai positif kepada kita yang memang sejatinya manusia memerlukan teman kaarna takan sanggup manusia untuk hidup sendirian?maka semakin bertambahnya usia dan bertambahnya akal untuk makin dewasa,maka harusnya kita sanggup memberi penilaian kepaada sahabat-sahabat kita,seperti apa dia dan akan jadi apa kita kalau bergaul bersama dia apakah mampu memberi nilai plus pada ibadah kita apakah munngkin semakin menurun amal dan ibadah kita,kebih membahayakan lagi kalau semakin bersama semakin rusak iman kita, maka sepatutunya kita harus sangat-sangat jeli untuk bisa beri penilaian….Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:« مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً »“Permisalan teman yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya, dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim}hadits diatas memberikan penjelsan untuk kita agar sangat hati-hati memilih teman, berteman dengan orang Alim dan pintar akan memberi efek positif kepada kita,mungkin kita yang masih kurang akan pengetahuan agamanya lama-lama karna berteman dengan orang yang berilmu kita pun akan tertular ilmu dan kebaikanya…lain halnya jika berteman dengan orang yg rusak imanya ,satu atau pertama kita akan tertular nama jeleknya…contoh kecilnya saja jika kita berteman dengan preman suka minum-minuman malakin orang(meminta harta orang dengan paksa) walaupun kita tak pernah berbuat,tapi karna kita sering kemana-mana bersama,pastinya tanggapan orang miring juga kepada kita mungkin orang berfikir ach itu pasti bosnya bagaimana tidak karna kita kmana-mana selalu bersama walau tak pernah berbuat seperti apa yang di lakukanya,parahnya lagi jika kita sampai ikut-ikutan sperti tingkahnya si preman waduh buahaya kan ya…???jadi lebih baiknya hati-hati jika mencari sahabat sejati,teringatsa’at dulu si penulis di ajar ngaji  “pergaulan kui lewih landep tinimbang pedang nang moko koe sing ati ati”(maksud nya adalah pergaulan itu lebih tajam dari pada pedang maka kamu harus hati-hati….bergaulah dengan teman yang bisa saling menguntungkan dalam hal ibadah dan tak terkecuali dalam mencari nafkah…    jangan bergaul dengan teman yang hanya bikin kita rugi dunia dan lebih-lebih akhirat…sahabat sejati harusnya bisa saling mengingatkan,jika teman berbuat salah janganlah segan untuk mencegah…jika teman berbuat baik  dan terpuji janganlah segan-segan untuk mengikuti….jadi mulai dari sa’at ini anda harus jeli dan sangat teliti…sperti apa teman kita dan akan jadi apa jika anda terus bersama….kalau hanya teman dalam urusan duniawi kita akan sangat mudah untuk mengetaui…“Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita. Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan. Siapa yang berada di samping anda??. Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai??”tapi kata-kata diatas hanya untuk urusan duniawi tapi jika urusan akhirat patutnya agar kita lebih jeli…semua jawaban ada di tangan anda maka lebih baik untuk kita agar lebih waspada.

Larut Dalam Perenunganku


Perlahan ku coba gerakkan kembali jemariku yang akhir-akhir ini mulai kaku
Bukan kalimah indah yang coba ku susun untuk menggugah
Bukan belaian kata lembut yang coba ku rangkum agar membuat takjub
Juga, bukan kedahsyatan kecerdasan otak dalam olah tulisan yang bisa menggetarkan hati saat ku baca kembali
Melainkan, bait tulis sanjungan yang teramat polos juga lugu dari insan dhoif sepertiku
“Apa yang akan kau lakukan andai Rasulullah ada dihadapanmu sekarang?”
Langsung seketika saat ada salah seorang sahabat mengajukan pertanyaan seperti ini,hatiku merinding
bulu kuduk seakan berdiri seolah siap untuk berlari mencari jawaban terbaik dari hati
Tapi sayang tak mampu ku jawab
Hanya bisa berucap “aku langsung ingin memeluk beliau…”
Ya Rasulallah…
Aku cemburu dengan bumi yang dulu pernah kau pijaki
Aku cemburu dengan udara yang kau hirup dalam setiap asa
Aku cemburu dengan air yang membasuh wudlumu sebagai permulaan berkumandangnya takbir
Aku cemburu dengan kain yang menghangatkan tubuhmu dari tusukan angin
Aku cemburu dengan sendal yang melindungi telapak kakimu dari kerikil yang menjegal
Aku cemburu dengan tempat dimana kau meletakan kening sujudmu dalam taat
Sebagai pelipur lara melatih menghadirkanmu dalam kerinduanku
Ku baca kembali tentang kisah detik-detik kepergianmu meninggalkan ummatmu
Namun aku sadar, aku bukanlah Abu Bakar yang begitu tegar mengiringi kepergianmu
Namun aku sadar, aku bukanlah Ummar yang begitu gempar mendengar kabar kepergianmu
Tapi aku hanyalah ummatmu yang berusaha menitikan air mata haru saat membaca kembali kisah kepulanganmu
Tapi aku hanyalah pembaca hadits tentang syariatmu juga kisah perjungan hidupmu
Tapi aku hanyalah ummatmu yang selalu berharap syafaatmu, meski sering kali malasmembacakan shalawat untukmu.
Padahal aku tahu hanya amalan itu yang bisa sampai kehadirat Rabbmu meski ada riya saat lisan melafadzkan untukmu.
Ya Rasulallah…
Maaf, aku belum bisa menghadirkan sepenuhnya kerinduan itu
Maaf, aku belum bisa merasakan kehilanganmu, seperti halnya ketika aku kehilangan orang-orang disekitar ku
Maaf, aku belum bisa kalau sampai detik ini, ungkapan kecintaanku padamu hanya sebatas ungkapan semu
Malam itu benar-benar ku adukan kepadaNya yang telah mengutusmu
Tentang jalan hidup yang ku tempuh, tentang kedurjanaan jiwaku
Malam itu benar-benar ku ingin menjadi perayu handal buat sukmaku
Berharap supaya bisa tergerak menghadirkan namamu dalam kelembutan cinta kasihku
Ya Rasulallah…
Andai saat ini engkau berada didepanku
Ku ingin mengadukan kepayahanku dalam merawat keimananku
Andai saat ini engkau mendengarku
Ku ingin mencurahkan kepadamu bahwa fitnah dunia ini amatlah keji dan teramat susah untuk ku hindari
Andai saat ini engkau melihatku
Ku ingin engkau mendoakanku membersihkan bau anyir sifat munafiqku, juga membersihkan bau busuk dosa ku
Meski harus ku tanggung rasa malu karena raga dan hati yang bobrok ini tampil di pelupuk mata sucimu
Andai saat ini engkau dibelakangku sembari mengamati caraku menulis tentangmu
Remukkan jemari ini andai tidak engkau sukai
Ya Rasulallah…
Di padang mahsyar nanti
Akui aku sebagai ummatmu, meski kelakuanku belum pantas mendapat predikat itu
Akui aku sebagai ummatmu, meski aku yang terahir dari sekian banyak ummatmu
Astaghfirullahal’adzim…
(dari seseorang yang ingin di akui sebagai ummat Muhammad saw.)

Monday, 11 February 2013

Hikmah Memakai Jilbab, (Juga) Pembuktian Sains

ALLAH SWT. memerintahkan sesuatu pasti ada manfaatnya 
untuk kebaikan manusia. 
Dan setiap yang benar-benar manfaat 
dan diperlukan manusia dalam kehidupannya, 
pasti disyariatkan atau diperintahkan oleh-Nya. 
Di antara perintah Allah itu adalah berjilbab bagi wanita muslimah.

♦♦♦

Berikut ini beberapa manfaat berjilbab menurut Islam dan ilmu pengetahuan.
 
1. Selamat dari adzab Allah (adzab neraka)
 
“Ada dua macam penghuni neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang dikepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini) tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh” (HR. Muslim).
 
Imam An-Nawawi ra. menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.
 
“Wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang” ialah mereka yang menutup sebagian tubuhnya dan menampakkan sebagian lainnya dengan maksud menunjukkan kecantikannya.
 
2. Terhindar dari pelecehan
 
Banyaknya pelecehan seksual terhadap kaum wanita adalah akibat tingkah laku mereka sendiri. Karena wanita merupakan fitnah (godaan) terbesar. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW,
 
“Sepeninggalku tak ada fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari).
 
Jikalau wanita pada jaman Rasul merupakan fitnah terbesar bagi laki-laki padahal wanita pada jaman ini konsisten terhadap jilbab mereka dan tak banyak lelaki jahat saat itu, maka bagaimana wanita pada jaman sekarang? Tentunya akan menjadi target pelecehan. Hal ini telah terbukti dengan tingginya pelecehan di negara-negara Eropa (wanitanya tidak berjilbab).

3. Memelihara kecemburuan laki-laki
 
Sifat cemburu adalah sifat yang telah Allah SWT tanamkan kepada hati laki-laki agar lebih menjaga harga diri wanita yang menjadi mahramnya. Cemburu merupakan sifat terpuji dalam Islam.
 
“Allah itu cemburu dan orang beriman juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah apabila seorang mukmin menghampiri apa yang diharamkan-Nya.” (HR. Muslim).
 
Bila jilbab ditanggalkan, rasa cemburu laki-laki akan hilang. Sehingga jika terjadi pelecehan tidak ada yang akan membela.
 
4. Akan seperti bidadari surga
 
“Dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, mereka tak pernah disentuh seorang manusia atau jin pun sebelumnya.” (QS. Ar-Rahman: 56).
 
“Mereka laksana permata yakut dan marjan.”(QS.Ar Rahman: 5).
 
“Mereka laksan telur yang tersimpan rapi.”(QS.Ash Shaffaat: 49).
 
Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga. Yaitu menundukkan pandangan, tak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya, yang senantiasa dirumah untuk menjaga kehormatan diri. Wanita inilah merupakan perhiasan yang amatlah berharga.
 
Dengan berjilbab, wanita akan memiliki sifat seperti bidadari surga.
 


5. Mencegah penyakit kanker kulit
 
Kanker adalah sekumpulan penyakit yang menyebabkan sebagian sel tubuh berubah sifatnya. Kanker kulit adalah tumor-tumor yang terbentuk akibat kekacauan dalam sel yang disebabkan oleh penyinaran, zat-zat kimia, dan sebagainya.
 
Penelitian menunjukkan kanker kulit biasanya disebabkan oleh sinar Ultra Violet (UV) yang menyinari wajah, leher, tangan, dan kaki. Kanker ini banyak menyerang orang berkulit putih, sebab kulit putih lebih mudah terbakar matahari.
 
Kanker tidaklah membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita. Hanya saja, wanita memiliki daya tahan tubuh lebih rendah daripada laki-laki. Oleh karena itu, wanita lebih mudah terserang penyakit khususnya kanker kulit.
 
Oleh karena itu, cara untuk melindungi tubuh dari kanker kulit adalah dengan menutupi kulit. Salah satunya dengan berjilbab. Karena dengan berjilbab, kita melindungi kulit kita dari sinar UV.

Melindungi tubuh bukan dengan memakai kerudung gaul dan baju ketat. Kenapa? Karena hal itu percuma saja. Karena sinar UV masih bisa menembus pakaian yang ketat apalagi pakaian transparan. Berjilbab disini haruslah sesuai kriteria jilbab.
 
6. Memperlambat gejala penuaan
 
Penuaan adalah proses alamiah yang sudah pasti dialami oleh semua orang yaitu lambatnya proses pertumbuhan dan pembelahan sel-sel dalam tubuh. Gejala-gejala penuaan antara lain adalah rambut memutih, kulit keriput, dan lain-lain.
 
Penyebab utama gejala penuaan adalah sinar matahari. Sinar matahari memang penting bagi pembentukan vitamin D yang berperan penting terhadap kesehatan kulit. 

Namun, secara ilmiah dapat dijelaskan bahwa sinar matahari merangsang melanosit (sel-sel melanin) untuk mengeluarkan melanin, akibatnya rusaklah jaringan kolagen dan elastin. 

Jaringan kolagen dan elastin berperan penting dalam menjaga keindahan dan kelenturan kulit.
 
Krim-krim pelindung kulit pun tidak mampu melindungi kulit secara total dari sinar matahari. Sehingga dianjurkan untuk melindungi tubuh dengan jilbab.
 
Jilbab adalah kewajiban untuk setiap muslimah. Dan jilbab pun memiliki manfaat. Ternyata tak sekedar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya. Jilbab tak hanya sekedar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.
 
Ternyata jilbab tak sekadar membawa manfaat ukhrawi namun banyak juga manfaat duniawinya.
 
Jilbab tak hanya sekadar menjaga iman dan takwa pemakainya, namun juga membuat kulit terlindungi dari penyakit kanker dan proses penuaan.
 
Demikianlah Allah memberi kasih sayangnya kepada wanita melalui syariat islam yang sempurna.(berbagaisumber/islampos)

Saturday, 2 February 2013

Masuklah Pada-Ku Seorang Diri


Allah berseru pada hamba-Nya,
“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!
Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!
Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-Ku untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!
Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku denganma’rifat, maka sambutan-Ku adalah hujjah, padahal hujjah-Ku pastilah tak terkalahkan.
Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu—red), pasti akan aku singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.
Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-Ku—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.
Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain Dia—red.), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.
Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku, sebab Aku-lah yang menunggumu (di luar rumah—red.) untuk menjadi penuntunmu.
Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu, akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.
Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena kepemurahan-Ku. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.
Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu, niscaya akan aku buka dengan kedua tangan-Ku, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.”
(Dari kitab ‘Al-Mawaqif wal Mukhtabat’, Imam An-Nifari, dengan beberapa kalimat yang diperbaiki tata bahasanya.)

Sudah Lama Tidak Ibadah



[TANYA] Saya seorang pencari tuhan yang baru faham akan arti ketuhanan. Namun saya telah lama meninggalkan ibadah ritul baik wajib maupun sunnah. Apakah saya perlu mursyid untuk menempuh suluk?
[JAWAB] Setelah lama meninggalkan ibadah sunnah maupun wajib, apakah masih ada sebersit kerinduan untuk mengabdi dan tunduk pada Allah ta’ala? Apa ada sedikit rasa ‘nelangsa’ ketika melihat orang melakukan shalat dengan khusyuk? Rindu ingin bisa begitu juga?
Kalau ya: artinya masih ada. Biar setitik pun, ada.
Allah sendiri yang menjaga setitik cahaya kerinduan itu di hati sampiyan. Jagalah cahaya itu. Syukuri dengan menyikapinya. Kembalilah mengerjakan apa yang Dia perintahkan untuk kita jalankan, sebelum Dia mengambil kembali cahaya-Nya itu. Jadikan kerinduan itu bahan baku kita untuk ibadah. Karena pada dasarnya, ibadah tidak bisa dipaksa.
Ketika Dia berkehendak untuk menarik kita mendekat kepada-Nya, ada dua cara: kita mendekat dengan sukarela, atau kita terpaksa ‘diseret’-Nya ke dalam ampunan serta rahmat-Nya dengan rantai ujian dan cambuk kesulitan, kebingungan atau penderitaan, yang pasti—tidak bisa tidak—akan membuahkan sebuah permohonan tolong dan ampun dengan jujur, dari dasar hati kita yang terdalam. Kalau saya, saya cenderung memilih jalan sukarela.

Selamat Dari Siksa Neraka?


[TANYA] Apabila hidup ini seperti yang disampaikan oleh Al Ghazali dalam kitabIhya Ulumuddin ttg Keajaiban Hati adalah benar, maka akan banyak sekali manusia yang tidak akan selamat dari siksaan neraka, karena adalah sangat sulit (bahkan mustahil) bagi manusia untuk menyelamatkan diri dari niat selain kepada Allah (dua niat dalam satu waktu, kepada Allah dan kepada manusia/dunia) dikarenakan nafsu manusia condong kepada dunia yang memukau penuh gairah ini.
Kalau hal itu benar, maka akan sangat mengherankan kalau masih ada manusia yang bisa tersenyum (apalagi tertawa) hidup di dunia ini karena begitu mengerikannya ancaman siksa Tuhan kepada manusia di hari akhir nanti.
Pertanyaannya adalah apakah hal itu benar atau itu hanya ilusi seorang Al Ghazali saja yang sudah mulai dirasuki oleh keadaan ekstase dalam pemujaannya kepada Tuhan?
: : : : : : : :
[JAWAB]
Assl Wr Wb
Memang benar bahwa untuk selamat dari siksa neraka, adalah mustahil. Mayoritas manusia memang tersesat. Saya kira itu bukan ilusi ekstasis dari Al-Ghazali. Bukan Al-Ghazali saja yang mengisyaratkan demikian. Bahkan Al-Qur’an sendiri sudah menegaskan hal itu.
“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Q.S. 6 : 116]
Selain itu, memang sudah ditetapkan bahwa kita semua, pada dasarnya, menuju neraka. Jarang sekali orang yang memperhatikan hal ini.
“Dan tidak ada satu orang pun dari pada kalian, kecuali mendatangi neraka itu. Hal itu, bagi Tuhanmu, adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” [Q. S. 19 : 71].
Bahkan bagi sebagian ahli hikmah, dunia ini pun sudah cukup untuk dikatakan sebagai neraka kecil. Tak perlu lagi menunggu neraka yang sebenarnya kelak. Itu membuat mereka minta diselamatkan sejak dari dunia ini.
Ketika Allah menciptakan neraka, Dia berfirman pada Jibril a.s untuk pergi melihat neraka. Lalu Jibril kembali dan berkata, “Demi kemuliaan-Mu, tak akan ada seorang pun yang ingin memasukinya.” Lalu Allah meliputi neraka penuh dengan hal-hal yang disukai nafsu dan syahwat manusia. “Pergi dan lihatlah kembali,” kata Allah. Dan Jibril pergi, lalu kembali dengan berkata, “demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tak ada seorang pun yang akan selamat dari siksa api neraka.” (H.R. Tirmidzi).
Bahkan Jibril a.s. pun menyangsikan ada orang yang bisa selamat dari neraka.
Itulah persoalannya. Umumnya manusia, di bawah sadarnya, meyakini bahwa mereka bisa menjaga dan menyelamatkan diri mereka sendiri dari neraka. Mereka mengira bahwa amal baik, perbuatan baik, bahkan perilaku membela agama, akan otomatis menjadikan mereka sebagai ahli surga. Betapa banyak orang muslim yang mati membawa kebanggaan dalam hati, karena yakin sekali akan selamat dalam menghadap pengadilan Allah ta’ala?
Cermati diri kita. Apakah masih tersisa keyakinan dalam diri kita, bahwa amal ibadah kita akan menyelamatkan kita kelak?
Padahal bukan itu sama sekali yang menyelamatkan manusia. Yang menyelamatkan manusia, mutlak, dan tidak bisa tidak, hanya rahmat Allah ta’alasaja. Hanya kehendak-Nya. Jika ia ‘kebetulan’ berkenan dan berbelas kasihan, maka Ia akan menyelamatkan kita.
“Setidaknya jika bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tak ada seorang pun dari kamu akan bersih, selama-lamanya.” [Q.S. 24 : 21]
“Sesungguhnya jiwa (manusia) itu menyuruh pada kejelekan, kecuali jiwa yang dirahmati Tuhanku.” (Q. S. 12 : 53)
Padahal untuk sekedar beriman pun, adalah kehendak-Nya. Bukan kehendak kita, atau kehendak orang tua.
“Dan tak seorang pun bisa beriman kecuali atas izin Allah.” [Q.S. 10 : 100]
Karena itu, kita dilarang memaksa orang untuk menjadi ‘beriman’, atas paksaan maupun desakan. Kalau memang Dia menghendaki itu, itu sangat mudah bagi-Nya. Tapi memang itu belum tentu menjadi kehendak-Nya.
“Jika Tuhanmu menghendaki, tentu berimanlah semua orang di muka bumi, seluruhnya. Apa kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman seluruhnya?” [Q. S. 10 : 99]
Itulah intinya. Yang harus tumbuh dari kita adalah sebuah pengharapan akan rahmat Allah ta’ala, tanpa pernah berhenti sekejap pun. Hati kita total menghadap kepada-Nya, memohon kasih sayang-Nya. Kita benar-benar bergantung dan berharap pada-Nya saja, bukan pada ibadah atau amal perbuatan.
Amal baik, perbuatan ibadah, pada dasarnya tidak akan menyelamatkan sama sekali. Ibadah dan amal statusnya hanyalah sebuah ungkapan pengharapan akan rahmat-Nya. Itu adalah ungkapan pengharapan dalam bentuk yang diperintahkan atau diwajibkan, sebuah bentuk pengharapan minimal yang harus dilakukan. Katakanlah, itu baru sebuah syarat untuk masuk gerbang istana Raja. Tapi bukan itu saja yang membuat Raja berkenan memberi. Dia harus juga mencintai kita.
“Tidak ada cara ber-taqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku sukai selain melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah Aku fardhu-kan kepadanya. Namun hamba-Ku itu terus berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan (sunnah) nawafil, sehingga Aku pun mencintainya.
Apabila ia telah Aku cintai, Aku menjadi pendengarannya yang dengan Aku ia mendengar, (Aku menjadi) pengelihatannya yang dengan Aku ia melihat, (Aku menjadi) tangannya yang dengan Aku ia keras memukul, dan (Aku menjadi) kakinya yang dengan Aku ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh, akan Aku beri dia, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku benar-benar akan melindunginya.”
(Hadits Qudsi riwayat Bukhari).
Di sisi lain, agama tidak seharusnya membuat seorang berhenti tersenyum dan jatuh tenggelam dalam kemurungan atau apatisme. Agama, yang berinduk dalam kitab Qur’an, tidak dijadikan untuk membuat kita susah dan murung (Q.S. 20 : 2) tapi sebagai –reminder–, pengingat, bagi mereka yang takut (Q.S. 20 : 3). Ayatnya memang demikian: sebagai peringatan bagi orang yang takut. Jadi takut memang sebuah fase untuk menuju-Nya.
Yang harus tumbuh memang khauf (takut) dan roja’ (harap). Bukan kebanggaan diri sebagai ahli ibadah, ahli jihad, ahli dakwah, pembela Islam, atau mati dalam keadaan merasa lebih baik dari orang lain, dan membawa kebanggaan atas semua itu.
“Tidak masuk surga orang yang didalam hatinya ada kesombongan meskipun hanya seberat dzarrah.” (H.R. Muslim)
Tidak bisa dipungkiri bahwa memang Allah menjadikan kita tertarik pada keduniawian. Kita memang hidup dan ditempatkan di dunia ini, dan dunia dalam kadar tertentu tentu kita butuhkan sebagai tools untuk menempuh jalan. Namun, selama kita mengira bahwa apa yang sudah kita lakukan akan bisa menyelamatkan kita, baik di akhirat ataupun di dunia ini, itu akan menjadi masalah besar dalam mendekat kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah, beliau Rasulullah berkata: “Mendekatlah (kepada Allah, ber-taqarrub) dan berusahalah benar! Ketahuilah, bahwa setiap orang diantara kalian tidak bakal selamat karena amalnya.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, tidak juga engkau?” Rasulullah bersabda: “Tidak juga aku, kecuali bila Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.” (Hadits Muslim)
Dari Jabir, beliau bersabda: “Aku mendengar Nabi saw. Bersabda: “Tak seorangpun diantara kalian dimasukkan oleh amalnya ke dalam surga dan tidak pula diselamatkan dari neraka begitu pula aku, kecuali dengan rahmat dari Allah. (Hadits Muslim)
Wassalaam,
Herry Mardian dan Imam Suhadi.
http://suluk.wordpress.com

Friday, 4 January 2013

Cara Soekarno Melawan Amerika Serikat


Dinamika perpolitikan Indonesia di era perang dingin kurun waktu 1953-1963 pernah ditandai dengan aroma diplomasi cantik dan elegan, disertai dengan kebijakan para pemimpin yang tidak mau didikte dan tunduk pada Amerika. Meski saat itu negeri Indonesia baru merdeka dalam hitungan belasan tahun, semangat nasionalisme dan kecerdikan para pemimpinnya menjadikan negara Indonesia disegani oleh Amerika, Uni Soviet dan negara-negara Sekutu.

Bagaimana tidak, di tengah perseteruan perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet, Indonesia, yang baru merdeka dalam hitungan belasan tahun, lewat kunjungan Soekarno ke Washington berhasil mendinginkan keadaan. Di sisi lain, melalui semangat nasionalisme yang tinggi dan kecerdikan diplomasinya, pemerintah Indonesia lewat diplomasi cantik dan ciamik Soekarno juga berhasil mempermainkan Amerika dan Uni Soviet dalam kasus pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.


Dengan menggunakan kartu Uni soviet, Soekarno menerapkan kebijakan luar negeri dengan metode gertak sambal, yaitu menakut-nakuti Amerika bahwa militer Uni Soviet akan membantu Indonesia dan akan memporak-porandakan Belanda, negara sekutu Abadi Amerika di tanah penjajahan Papua.


Berkat diplomasi Bung karno, Amerika tak berkutik, John F Kennedy dengan sangat terpaksa memerintahkan Belanda untuk hengkang dari dan tanah Irian Barat. Papua kemudian bebas dari penjajahan dengan tanpa jatuh korban dan peperangan. Sebuah permainan diplomasi cantik diperagakan oleh pemimpin Indonesia, dengan spirit nasionalisme yang tinggi dan sikap pemerintahan yang independen.


Landasan kepemimpinan Soekarno dibangun atas dasar nasionalisme, Islam dan Marxisme. Nasionalisme yang tumbuh dalam dirinya telah menanamkan rasa persatuan dan cinta Tanah Air sekaligus menjadikan dirinya menjadi proklamator dan presiden pertama Indonesia, sementara ideologi Marxisme yang dikembangkannya membuat dirinya memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet dan menanamkan jiwa anti hegemoni dan imperialisme Barat.


Bersama pemerintahan Soekarno, kebijakan luar negeri Indonesia sangat disegani asing. Salah satu kebijakan luar negeri yang indah dan luar biasa dalam dinamika politik Indonesia di era pemerintahan Soekarno adalah peristiwa pembebasan tanah Papua dari penjajahan Belanda.


Pada masa itu, Soekarno memanfaatkan Uni Soviet yang saat itu sedang berseteru dengan Amerika, pada saat bersamaan posisi negara Belanda menjadi bagian dari Sekutu bersama Amerika dan Eropa. Soekarno melalui kekuatan diplomasinya membujuk Uni Soviet untuk membantu secara militer mengusir Belanda dari tanah Papua, dan keberhasilan diplomasi Soekarno ini disampaikan ke Pihak Amerika. Amerika yang saat itu tidak tega melihat sekutu abadinya luluh lantak oleh militer Uni Soviet, lalu memerintahkan Belanda untuk mundur dari pendudukannya di tanah Irian.


Proses diplomasi yang membuat Amerika gigit jari tersebut berlangsung demikian. Subandrio wakil perdana menteri yang pernah menjabat duta besar Moskow, diperintah olah Soekarno untuk meminta bantuan militer kepada pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushehev, agar mengusir Belanda dari tanah Papua. Keberhasilan Subandrio melobi Nikita Khrushehev kemudian disampaikan oleh Soekarno kepada Howard P Jones, duta besar Amerika di Indonesia. Informasi tersebut membuat John F Kennedy yang saat itu sedang menjabat sebagai presiden Amerika kalang kabut, karena Kennedy tidak mau melihat Belanda porak-poranda dan babak belur akibat serangan militer Uni Soviet, ia memaksa Belanda untuk kabur dan hengkang dari tanah Papua. Tanah Papua pun bebas dari penjajahan Belanda dengan tanpa korban dan biaya pengeluaran untuk militer, dan militer Uni Soviet pulang tanpa menembakkan sebutir peluru pun karena Belanda sudah hengkang saat kapal perang Uni Soviet sampai di perairan Indonesia.


Keberhasilan Soekarno mempecundangi Amerika tidak hanya dalam kasus pembebasan tanah Irian, pemerintahan di masa Soekarno juga berhasil menangkap basah penyusupan CIA di Maluku pada tahun 1958, yang menyamar sebagai pilot, dan kemudian diadili secara tertutup. Padahal Amerika saat itu mendanai pemberontakan pemerintahan revolusioner Republik Indonesia dan perjuangan Semesta di Maluku.


Pencapaian negara Indonesia di era Soekarno ini seakan menunujukkan bahwa negara Indonesia pernah menjadi negara yang memiliki kekuatan diplomasi yang cantik, dengan jiwa nasionalisme yang tinggi dan tidak pernah mau tunduk dan didikte oleh negara super power Amerika. Salah satu bukti nyata lain adalah dinamika politik Indonesia pada tahun 1948 ditandai dengan deklarasi politik bebas aktif, melawan Malaysia pada tahun 1963, dan keluar dari keanggotaan PBB pada tahun 1965.


Lewat buku ini rasanya Baskara ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu pernah memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan dengan gagah berani menentang hegemoni pihak asing. Sayangnya ruh kepemimpinan ala Soekarno ini tidak lagi kelihatan di masa sekarang, dan hanya tinggal kenangan.


Hal ini dibuktikan, bahwa praktis pasca presiden Soekarno, Indonesia berada dalam cengkeraman asing (Amerika), pemerintahan Orde Baru berada di bawah kendali Amerika, melalui lembaga-lembaga internasional-nya seperti IMF, Bank Dunia, USAID. Orde Baru mewarisi kebijakan buruk dan berlanjut hingga sekarang, tak heran jika Indonesia di masa Orde Baru pernah dijuluki sebagai negara gagal atau failed state akibat strategi kebijakannya yang selalu tunduk pada Mafia Berkeley, dan Indonesia hanya menjadi negara kepanjangan tangan dari kepentingan global Mafia Berkeley lewat “Washington konsensus”.


Sumber: www.sanmaula.blogspot.com


Saturday, 17 November 2012

Iman naik dan turun, apa yg dilakukan saat iman turun?


Iman itu naik dan turun, dan jika sedang saat menurun demikian, ingatlah mati..,
ketika tangan - tangan para kekasih mengusung kita dan menurunkan tubuh kita ke dalam lahad dengan airmata kesedihan, tahukah keadaan kita?, seluruh tali pengikat kafan dibuka, lalu wajah dibuka dari kafan..tubuh ditaruh dalam posisi miring menghadap ke kanan yaitu kiblat, lalu punggung kita diganjal batu bata agar tubuh tidak terlentang lagi, yaitu tetap miring menghadap kiblat, dan wajah kita ditempelkan ke dinding kubur, agar terus wajah kita mencium tanah dinding kubur yang lembab itu....lalu kayu kayu papan ditaruhkan diatas tubuh kita bersandarkan dinding kubur, menutup seluruh tubuh kita agar tanah tidak langsung menimpa tubuh, lalu tanah mulai ditumpahkan diatas tubuh kita..

Setelah itu kita sendiri disana..., dalam kesempitan dan kegelapan.., panas.. gelap..sendiri.. bukan sebulan atau dua bulan, tapi bisa ratusan tahun atau ribuan tahun sendiri..tak bisa curhat..., tak bisa berhubungan dengan siapapun.., tak bisa bergerak kemana mana..., tak ada pemandangan, tak ada warna, yang ada hanya kegelapan dan kegelapan.., menunggu dan menunggu.. ribuan tahun.. sendiri..Yang ditunggu adalah sidang akbar pertanggungan jawab.. harap harap cemas diselingi putus asa dan penyesalan.. itulah yang terus menghantui
kita kelak..

Ketika mengingat ini maka leburlah segala kekerasan hati, iapun mencair, dan jiwa terpanggil untuk sujud sambil menangis, mengadu pada Allah jika ingat akan hal itu karena hanya Dialah yang melihat keadaan kita saat itu..Hanya Dialah yang ada saat itu.. untuk inilah kita shalat.. agar Dia swt tak melupakan kita saat itu dan mengasihani kita yang telah terbujur kaku di dalam tanah lembab ribuan tahun..

http://kaskus.co.id/thread/000000000000000013981209/akidah-ahlus-sunah-wal-jama039ah-aswaja/5

Saturday, 10 November 2012

Dosa Yang Lebih Besar Dari Dosa Zina


Suatu Senja, seorang wanita melangkahkan kaki mendekati kediaman Nabi Musa. Setelah mengucapkan salam, dia masuk sambil terus menunduk. Air matanya berderai tatkala berkata, “Wahai Nabi Allah, tolonglah saya. Doakan agar Allah mengampuni dosa keji saya.”

“Apakah dosamu wahai wanita..?” Tanya Nabi Musa. “Saya takut mengatakannya,” jawab wanita itu. “Katakanlah, jangan ragu-ragu..!” desak Nabi Musa.

Maka perempuan itu pun dengan takut bercerita, “Saya telah berzina.”Kepala nabi Musa terangkat, hatinya tersentak. “Dari perzinaan itu saya Hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya cekik lehernya sampai mati,” lanjut perempuan itu seraya menangis.

KISAH NYATA ::: 7 KALI BERHAJI NAMUN TAK PERNAH DAPAT MELIHAT KA'BAH


Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. 

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala perlengkapan sudah disiapkan.


Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.




Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. 



Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan.


Beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan. Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

Wednesday, 7 November 2012

IKHWAN SEJATI


Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”
Sang Ibu tersenyum dan menjawab…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran. 
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahadapi lika-liku kehidupan.
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?
Sang Ibu memberinya buku dan berkata…
Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.
(Sumber: http://keepfight.wordpress.com/2009/10/08/ikhwan-dan-akhwat-sejati/)

AKHWAT SEJATI



Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.
Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.

Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!”
Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”.
(Sumber: http://keepfight.wordpress.com/2009/10/08/ikhwan-dan-akhwat-sejati/)

Saturday, 3 November 2012

Pemuda - Pemuda Sejati




Negeri ini punya banyak pemuda pemuda islam dengan berbagai karakteristik tertentu, namun banyak diantara mereka yang tidak perah menjadi contoh atau teladan karena banyaknya kerusakan moral dan kehancuran mental, Negeri ini masih mencari pemuda sejati.
Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kisah ini akan memberi gambaran kepada kita Bagaimana sesunggunya karakteristik ideal dari seorang pemuda. Dari cerita berikut setidaknya kita akan mendapat ibroh tentang Ketaatan kepada Allah Swt, rasa Tanggung Jawab, Kepedulian, serta Persaudaraan. Berikut penggalan kisahnya:
Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA, ada seorang pemuda yang berencana untuk melakukan perjalanan jauh. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya.
Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu juga merusak segala yang dilewatinya.
Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun.
Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya, "Siapa yang membunuh unta miliku ini?" sang Kakek lalu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khattab RA.
Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukum bunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Lalu, Umar bertanya kepada sang pemuda. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya
Umar lalu berkata, "Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah terhadapmu," sang pemuda dengan lapang dada menerima keputusan tersebut. Ia kemudian meminta kepada Khalifah Umar, agar diberi waktu dua hari untuk pulang ke kampungnya, sehingga dia bisa berpamitan kepada keluarga serta bisa membayar hutang-hutangnya. Umar kemudian berkata, "Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu." Pemuda itupun menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, Aku orang asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin."
Salah seorang sahabat mulia, ABU DZAR AL-GHIFARI RA (yang ketika itu usianya terkatagori masih muda) secara kebetulan hadir di majlis tersebut. Beliau kemudian berkata, "Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak datang lagi setelah dua hari." Dengan terkejut, Umar berkata, “Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar, sahabat Rasulullah?," "Benar, ya Amirul Mukminin," jawab Abu Dzar lantang.
Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishah, orang-orang penasaran menantikan datangnya pemuda itu. SANGAT MENGEJUTKAN! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan takjub. Umar bertanya kepada pemuda itu, "Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?" Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, 'tidak ada lagi pemuda yang menepati janji di kalangan umat Ini'. Dan agar orang-orang tidak mengatakan, 'tidak ada lagi Pemuda sejati nan kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat ini"
Lalu, Umar melangkah ke arah Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, "Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?" Abu Dzar menjawab, "Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi Pemuda jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat ini."
 Mendengar itu semua, dua orang pemuda anak kakek yang terbunuh pun ikut berkata, "Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda yang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat ini.”
Dari kisah tersebut telah jelas bahwa seorang pemuda sejati adalah para pemuda yang berjiwa besar. masih adakah di negeri ini para pemuda ideal (sejati)? kami masih menunggu dan mencari [ ].

Sumber : kisah kisah sejati - Story From Flashdisk 8GB Ammar Yassir
http://galihpran.blogspot.com/

Wednesday, 24 October 2012

SURAT CINTA BUAT UKTHY BERKERUDUNG



Ini adalah unek-unek saya yang banyak dikecewakan oleh performa para muslimah yang nampak di depan kedua biji mata saya sehari-hari. Di tengah kegembiraan banyak orang yang melihat kerudung pada saat ini menjadi trending fashion banyak muslimah, saya sebenarnya gemas, kecewa, galau dan marah, tapi juga bingung.

Pangkal kekecewaan saya adalah soal kesenjangan an
tara kerudung dengan gaya hidup mereka. Mengapa banyak muslimah yang berkerudung sekedar puas dengan berkerudung. Seolah-olah kerudung itu sudah babak final dalam penampilan dan lifestyle, kenapa mereka tidak mau meningkatkan kepribadian mereka, pemahaman mereka dan menjaga diri mereka? Kenapa? Kenapa? Please, somebody help me!

Coba, pembaca pikirkan, bagaimana saya tidak bingung melihat seorang muslimah berkerudung tapi body mereka tampak melendung-melendung. Wajah manis berkerudung dalam balutan kemeja ketat yang kancingnya seolah mau meloncat karena ketarik bodi mereka yang sudah baligh, dan panggul ke bawah dililit jeans ketat – malah ada juga yang nekat pake legging (gubraaag) – sehingga ‘aset nasional’ mereka dikibarkan ke mana-mana.

Ukhtiiiiii….! Maaf kalau saya sarkastis, tapi Anda ini kan muslimah, bukan hewan qurban yang dinilai dari bobot badan dan kemontokan tubuh. Sapi dan domba qurban sengaja di-display-kan dengan vulgar di pinggir jalan agar orang-orang yang mau berkurban ngiler untuk membelinya dan mengurbankannya untuk fakir miskin.